Dari Banyuwangi ke Tambakberas, Menautkan Sanad Perjuangan Ulama dan Khidmat Muktamar ke-35 NU

  • Bagikan
Kgs. Dedi Miryanto, SE,. M.S.i/Foto: Istimewa

​Banyuwangi (Lensaindonesia.co) – ​Perjalanan sejarah Nahdlatul Ulama (NU) merupakan mata rantai peradaban yang berkesinambungan. Sejarah ini menghubungkan secara utuh jejak perjuangan para ulama perintis di masa lampau dengan pengabdian kebangsaan di masa kini dan masa depan.

​Akar Sejarah: Keteladanan Kyai Saleh Lateng
​Keterkaitan sejarah ini berakar kuat pada sosok K.H. Muhammad Saleh bin Kiagus Abdul Rashid (Kyai Saleh Lateng). Beliau merupakan ulama besar keturunan bangsawan Palembang yang menyandang gelar Kiagus, berbasis perjuangan di Lateng, Banyuwangi, serta memiliki garis silsilah yang tersambung hingga Sunan Kudus.

​Sebagai pendiri dan Rais Syuriyah Pertama PCNU Banyuwangi (1927), Kyai Saleh Lateng menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-9 pada tahun 1934 di Banyuwangi. Muktamar historis tersebut menjadi tonggak lahir dan disahkannya ANNO (Ansoru Nahdlatil Oelama), yang kini dikenal luas sebagai Gerakan Pemuda (GP) Ansor.

Rekam jejak beliau juga terpatri dalam perjuangan kemerdekaan—termasuk keterlibatan langsung pada Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, serta kontribusinya dalam peletakan dasar tata kelola keagamaan negara.
​Muktamar ke-35 NU: Menjaga Marwah dan Khidmat Kebangsaan
​Nilai-nilai perjuangan dan fondasi keorganisasian yang dirintis generasi pendiri kini berlanjut pada perhelatan tertinggi organisasi yang berlangsung saat ini:
​Waktu Pelaksanaan: 27–31 Agustus 2026
​Tempat: Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Kabupaten Jombang, Jawa Timur

​Pembukaan Resmi: Dibuka secara resmi oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada Kamis, 27 Agustus 2026
​Tema: “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa.”

Sayyid Kiagus M. Saleh Azmatkhan (Pahlawan Kesultanan Palembang) Foto: Istimewa

​Agenda Utama: Forum musyawarah tertinggi lima tahunan ini merumuskan arah strategis organisasi, program kerja, rekomendasi kebangsaan, serta sidang-sidang komisi Bahtsul Masail. ​Kehadiran Tokoh: Dihadiri oleh Rais Aam PBNU K.H. Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU K.H. Yahya Cholil Staquf, jajaran petinggi PBNU, pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI), menteri Kabinet Merah Putih, serta para pimpinan lembaga negara.

​Harapan dan Doa Kebangsaan ​Matriks sejarah dari Muktamar ke-9 di Banyuwangi tahun 1934 hingga Muktamar ke-35 di Tambakberas Jombang tahun 2026 menegaskan konsistensi NU dalam mengawal perjalanan Republik Indonesia. ​Semoga seluruh rangkaian acara Muktamar ke-35 NU berjalan sukses dan melahirkan keputusan-keputusan strategis bagi kemaslahatan bangsa, negara, dan kemanusiaan universal.

Harapan besar tercurah agar NU terus membimbing lahirnya tatanan masyarakat yang beradab, bermoral, dan menguasai ilmu pengetahuan serta teknologi modern demi keberlangsungan masa depan generasi penerus. ​Doa terbaik menyertai kelancaran Muktamar ke-35 NU serta jajaran kepengurusan PBNU yang akan datang dalam menjalankan amanah keumatan dan kebangsaan.

Oleh: Kgs. Dedi Miryanto, S.E., M.Si. (KDM)
(Ikatan Keluarga Besar Zuriat Palembang Darussalam – Lampung)

(Dian)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *